Palangka Raya - Rangkaian Central Kalimantan Art Festival (CKAF) 2026 resmi ditutup melalui pertunjukan lecture performance bertajuk “Lapan Lapin” di Panggung Terbuka UPT Taman Budaya Provinsi Kalimantan Tengah, Jumat (24/7/2026).
Kepala UPT Taman Budaya Provinsi Kalimantan Tengah, Wilda D. Binti, mengatakan “Lapan Lapin” menjadi pertunjukan penutup seluruh rangkaian CKAF 2026 yang sebelumnya menghadirkan berbagai agenda seni dan budaya, termasuk Kotawaringin Art Festival dan Central Kalimantan Choreographers Meeting (CKCM).
Menurut Wilda, rangkaian kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi perkembangan seni budaya Kalteng karena mendapat dukungan melalui program Dana Indonesiana serta Manajemen Talenta Nasional dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Pada malam penutupan, Pemprov Kalteng juga memberikan sertifikat dan piagam penghargaan kepada 10 koreografer dari delapan provinsi serta apresiasi kepada delapan koreografer terpilih yang terlibat dalam CKCM 2026.
Wilda berharap CKCM dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan ekosistem seni pertunjukan di Kalimantan Tengah. Selain menjadi ruang bertemu dan bertukar gagasan, kegiatan ini diharapkan membantu mengidentifikasi talenta-talenta seni potensial yang dimiliki daerah.
“Harapannya, melalui kegiatan ini kita dapat membuat satu data mengenai talenta-talenta seni terbaik yang kita miliki di Kalimantan Tengah. Ini sejalan dengan tujuan Manajemen Talenta Nasional dalam mengidentifikasi dan mengembangkan talenta seni yang potensial,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur CKCM Abib Habibi Igal mengatakan pertunjukan “Lapan Lapin” merupakan karya baru hasil riset yang menjadi bagian dari rangkaian besar CKAF 2026. Festival tersebut mempertemukan berbagai karya seni melalui kolaborasi lembaga, komunitas, dan pelaku seni di Kalimantan Tengah.
Abib menjelaskan, karya “Lapan Lapin” berangkat dari hasil riset di Kabupaten Sukamara. Tim menggali kesenian Japen yang berkembang di Desa Padang dan bertemu dengan maestro seni Roni sebagai salah satu sumber dalam proses penciptaan karya.
Hasil riset tersebut kemudian diterjemahkan menjadi pertunjukan yang mempertemukan kesenian tradisional dengan konteks kehidupan masa kini. Dari proses tersebut, tim menemukan bahwa kesenian Dambus dan Japen di Sukamara memiliki keterkaitan dengan pengalaman universal manusia, yakni kerinduan.
“Kerinduan itu menjadi bahasa purba manusia. Semua yang terjadi selama kurang lebih 45 menit dalam pertunjukan ini kami kerjakan dengan membawa perasaan rindu masing-masing,” ungkap Abib.
Ia berharap CKCM 2027 dapat menghadirkan program-program baru yang semakin sesuai dengan kebutuhan ekosistem seni tari di Kalimantan Tengah. Setelah dua tahun berjalan, pihaknya mulai menemukan berbagai persoalan dan kebutuhan yang perlu menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan program ke depan.
Abib juga berharap dukungan pemerintah, sektor swasta, dan komunitas seni terus diperkuat agar berbagai persoalan dalam dunia seni tari di Kalimantan Tengah dapat diurai dan dicarikan solusi bersama.
Berakhirnya CKCM 2026 diharapkan bukan menjadi akhir dari proses kreatif para seniman, melainkan menjadi awal lahirnya karya-karya baru, kolaborasi lintas daerah, serta penguatan ekosistem seni budaya Kalteng.
Pertunjukan “Lapan Lapin” pun menjadi penutup yang sarat makna. Melalui riset, tradisi, dan kreativitas, karya tersebut kembali mengangkat kekayaan seni lokal Sukamara ke panggung pertunjukan sekaligus memperkenalkan seni budaya Kalimantan Tengah kepada masyarakat luas,"Pungkasnya.
(Era Suhertini)
0 Comments