Palangka Raya - Di tengah menjamurnya aplikasi belanja online dan pusat perbelanjaan modern yang menawarkan kenyamanan ber-AC, detak jantung pasar tradisional di kawasan pasar besar nyatanya belum berhenti berdenyut.
Pemandangan khas pasar tumpah dengan payung-payung berwarna-warni, deretan becak yang setia menunggu penumpang, hingga suara tawar-menawar yang riuh, tetap menjadi magnet tersendiri bagi warga sekitar. Bagi banyak orang, pasar tradisional bukan sekadar tempat pertukaran barang, melainkan ruang sosial yang menjaga kehangatan antarmanusia.
(ANISA BELLA)
Palangka Raya - Pemandangan kurang sedap menghiasi salah satu ruas jalan utama. Tumpukan sampah liar yang didominasi limbah rumah tangga terlihat menggunung di bahu jalan, tepat di depan pagar sebuah area pemukiman yang asri.
Berdasarkan pantauan di lokasi, sampah yang berserakan tidak hanya berupa kantong plastik kecil, tetapi juga merambah ke limbah besar seperti kasur bekas dan tumpukan tempurung kelapa. Hal ini tidak hanya merusak estetika kota, tetapi juga mulai menimbulkan bau tidak sedap yang mengganggu pengguna jalan dan warga sekitar.
(ANISA BELLA)
Palangka Raya - Sampah merupakan sisa aktivitas akhir manusia yang berupa limbah organik maupun anorganik. Membuang sampah pada tempatnya berguna untuk mencegah banjir dan mengurangi pencemaran tanah serta memudahkan pemerintah daerah khususnya Dinas Lingkungan Hidup untuk di daur ulang.
Sampah yang menumpuk bisa menyebabkan bau menyengat yang mengganggu kehidupan manusia. Selain itu, tumpukan sampah yang tidak terawat di ruang publik bisa membuat kawasan tersebut terlihat kumuh, kurang nyaman serta menurunkan kesan keindahan ruang publik.
Seperti yang bisa terlihat, di Jl. Lawu terdapat banyak tumpukan sampah sisa pembuangan rumah tangga dan benda-benda tak layak pakai dibuang begitu saja di pinggiran jalan tersebut. Sampah tersebut menyebabkan bau menyengat dan merusak pemandangan karena penempatan lokasi yang sangat tidak strategis untuk membuang sampah.
Masyarakat sekitar tampaknya kurang memiliki kesadaran untuk membuang sampah dengan tertib. Hal tersebut bisa tampak dari banyaknya tumpukan sampah yang berhamburan tidak pada tempatnya. Pemerintah daerah khususnya Dinas Lingkungan Hidup seharusnya bisa lebih memperhatikan kawasan ini untuk menutup akses masyarakat membuang sampah di lokasi ini, mengingat lokasi ini berada tepat di pinggir jalan.
Dengan demikian, pemerintah daerah perlu menjadikan pengelolaan sampah sebagai prioritas nyata agar masyarakat bisa merasakan dampak yang signifikan. Hal itu bisa dilakukan dengan cara menambah TPS di lokasi yang strategis dan memberi sanksi tegas bagi para pelaku pembuang sampah sembarangan.
(Viaini Nur Faidah)
Palangka Raya - Setelah berakhirnya cuti bersama Idul Fitri 1447, keadaan perekonomian di Kalimantan Tengah masih mengalami beberapa kenaikan harga bahan pangan. Salah satunya yang melonjak paling tinggi adalah harga jual cabai di pasar yang kini mencapai Rp. 100.000 perkilo. Padahal sebelumnya harga normal untuk cabai perkilo-nya berada di rentang Rp. 50.000-60.000 saja.
Menurut keterangan penjual sembako di komplek pasar besar Palangka Raya, beliau menyatakan jika kenaikan tersebut terjadi selang sehari setelah libur lebaran tiba. Kenaikan itu masih belum turun hingga kini, bahkan ada beberapa bahan pangan lain yang mengalami kenaikan pula, salah satunya adalah tomat dengan kisaran harga Rp. 30.000 perkilo. Sebelumnya harga tomat berada di kisaran Rp. 10.000-20.000 perkilo.
Walaupun cabai mengalami lonjakan harga yang paling tinggi, akan tetapi menurut keterangannya pada hari Kamis, 26 Maret 2026 menyampaikan, saat ini bawang putih tidak terkena imbas kenaikan harga seperti cabai dan tomat. Untuk harga bawang putih sendiri masih stabil dan berada di kisaran harga Rp. 42.000-45.000 perkilonya. Memang tidak semua harga pangan naik, akan tetapi hal seperti ini turut mempengaruhi pendapatan para penjual.
Ia juga menegaskan jika kenaikan seperti ini juga memberikan imbas, khususnya para pedagang. Lonjakan seperti ini membuat para pembeli sedikit takut untuk sekedar membeli bahan pangan sehingga kebanyakan dari mereka hanya bertanya kemudian pergi begitu saja. Ia juga berharap kenaikan harga pangan ini bisa kembali turun agar para pembeli tidak segan untuk membeli.
(Viaini Nur Faidah)