Palangka Raya - Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui Dinas Kehutanan terus memperkuat upaya rehabilitasi hutan dan lahan kritis dengan mendorong penerapan model agroforestry yang mengintegrasikan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial.
Langkah tersebut diwujudkan melalui penyusunan Model Agroforestry untuk Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kritis bersama Universitas Palangka Raya (UPR) dan WWF Kalimantan Tengah.
Penyusunan model tersebut dibahas dalam rapat yang berlangsung di Ruang Rapat Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah, Rabu (15/7/2026).
Dokumen ini diharapkan menjadi acuan dalam pelaksanaan rehabilitasi kawasan hutan yang adaptif, produktif, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar kawasan hutan.
Model agroforestry dikembangkan sebagai pendekatan pengelolaan lahan secara terpadu dengan memadukan tanaman kehutanan, tanaman pertanian, serta komoditas bernilai ekonomi.
Pendekatan ini tidak hanya bertujuan memulihkan tutupan hutan dan fungsi ekologis kawasan, tetapi juga meningkatkan produktivitas lahan, kesejahteraan masyarakat, serta menjaga nilai-nilai budaya lokal yang telah lama hidup berdampingan dengan hutan.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah, Dr. Agustan Saining, S.Hut., M.Si., menegaskan bahwa rehabilitasi hutan saat ini harus mampu menjawab tantangan perubahan lingkungan sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat.
"Agroforestry merupakan solusi yang mampu mengintegrasikan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial. Dengan pengelolaan yang tepat, hutan dapat dipulihkan, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi, dan kelestarian lingkungan tetap terjaga," ujarnya.
Menurut Agustan, keberhasilan rehabilitasi hutan dan lahan kritis tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga konservasi, dunia usaha, hingga masyarakat sebagai pelaku utama di lapangan.
"Keberhasilan rehabilitasi tidak dapat dilakukan sendiri. Sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga konservasi, dunia usaha, dan masyarakat merupakan fondasi utama dalam mewujudkan hutan Kalimantan Tengah yang lestari dan berkelanjutan," tegasnya.
Melalui kolaborasi bersama UPR dan WWF Kalimantan Tengah, Dinas Kehutanan berharap model agroforestry ini dapat menjadi pedoman implementasi rehabilitasi hutan yang lebih efektif, adaptif terhadap kondisi lokal, serta mampu mendukung pembangunan kehutanan berkelanjutan di Kalimantan Tengah.
Di akhir kegiatan, Kepala Dinas Kehutanan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama mendukung penerapan agroforestry sebagai strategi rehabilitasi hutan yang tidak hanya memulihkan ekosistem, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga keberlanjutan sumber daya hutan bagi generasi mendatang.
(Era Suhertini)
0 Comments