Palangka Raya - Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) terus mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan memperkuat Operasi Siaga Darurat bersama Satuan Tugas Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Dalkarhutla).
Operasi yang berlangsung selama 24 jam ini melibatkan berbagai unsur lintas sektor, mulai dari TNI, Polri, Manggala Agni, Dinas Kehutanan, Balakar, Tim Serbu Api Kelurahan (TSAK), Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga sejumlah instansi terkait lainnya. Sinergi tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan karhutla berjalan cepat, terpadu, dan efektif.
Kepala Pelaksana BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib, mengatakan pihaknya terus meningkatkan kesiapsiagaan melalui penguatan personel, optimalisasi sarana dan prasarana, serta koordinasi antarlembaga dalam menghadapi ancaman karhutla.
"Pengendalian karhutla membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, baik pemerintah, aparat keamanan, dunia usaha, maupun masyarakat. Dengan sinergi yang kuat, penanganan dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan berkelanjutan," ujarnya.
Menurut Ahmad Toyib, fokus operasi tidak hanya pada pemadaman api, tetapi juga mencegah meluasnya kebakaran melalui patroli rutin, pemantauan titik rawan, dan edukasi kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan.
Saat ini, penanganan diprioritaskan di dua wilayah, yakni kawasan Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, dan Kelurahan Kameloh Baru, Kota Palangka Raya, yang masih memiliki potensi penyebaran api.
Dalam operasi tersebut, Satgas Dalkarhutla mengerahkan empat regu Satgas Udara, 15 regu Satgas Darat, serta tambahan 22 regu gabungan yang difokuskan di kawasan Tumbang Nusa. Seluruh personel bekerja berdasarkan Rencana Operasi (Renops) sebagai pedoman pelaksanaan tugas di lapangan.
Penguatan operasi juga didukung pemanfaatan teknologi. Sebelum personel diterjunkan, pemetaan menggunakan drone dilakukan untuk mendeteksi hotspot dan menentukan titik prioritas penanganan.
Sementara itu, regu pemadam darat bersama tim gabungan membuat sekat bakar guna menghambat penyebaran api.
Dukungan udara turut menjadi bagian penting dalam operasi ini. Helikopter Bell 206 L3 dan pesawat Grand Caravan Cessna 208B-EX melakukan patroli udara, sedangkan helikopter water bombing SA330J Puma dan Sikorsky EH-60A Blackhawk disiagakan untuk mempercepat proses pemadaman apabila diperlukan.
Di lapangan, Satgas Darat terus melaksanakan patroli terpadu, pemadaman lanjutan, pendinginan area bekas kebakaran, serta sosialisasi kepada masyarakat sebagai langkah pencegahan. Seluruh personel juga diwajibkan menggunakan alat pelindung diri (APD) selama bertugas.
Berdasarkan laporan operasi, penanganan di Tumbang Nusa telah memasuki hari ke-28, sedangkan di Kelurahan Kameloh Baru memasuki hari ke-4. Di Tumbang Nusa, petugas melakukan penyekatan menggunakan ekskavator sejauh sekitar 600 meter dari kepala api sebelum dilanjutkan dengan pemadaman dan pendinginan untuk mencegah munculnya titik api baru.
Hingga 28 Juli 2026 pukul 18.00 WIB, tercatat 35 hotspot dan 21 kejadian karhutla dengan total luas lahan terdampak mencapai 54,96 hektare. Sebanyak 238 personel gabungan bersama dukungan empat helikopter terus disiagakan untuk memperkuat upaya pengendalian karhutla di Kalimantan Tengah.
Melalui operasi terpadu ini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat koordinasi, kesiapsiagaan, dan sinergi lintas sektor demi melindungi masyarakat serta meminimalkan dampak kebakaran hutan dan lahan.
(Era Suhertini)
0 Comments