P. Raya

Bijak Bermedia Sosial, Jaga Budaya Indonesia

PALANGKA RAYA - Era digital tak lengkap rasanya tanpa media sosial. Banyak manfaat yang bisa didapatkan dari penggunaannya, seperti menghubungkan teman, keluarga, atau rekan bisnis yang jaraknya sangat jauh. Membangun personal branding pun bisa di dunia virtual ini.

Di sisi lain, media sosial juga bisa menjadi alat komunikasi yang tidak memiliki nilai sama sekali jika digunakan dengan cara yang menyimpang. Tak sedikit orang menggunakan platform seperti Facebook, Instagram, LinkedIn, SnapChat, dan Twitter sebagai wadah untuk mengekspresikan kemarahan dan kebencian.

Apa pun yang diekspresikan ke media sosial akan menjadi bagian rejam jejak digital yang permanen. Bayangkan, apa yang akan terjadi jika kemarahan dan kebencian yang diujarkan? Seperti sebuah kasus yang menyangkut Kevin Hart, seorang artis kenamaan asal Amerika Serikat.

Kevin terpaksa harus mundur sebagai pembaca acara Academy Awards atau Penghargaan Piala Oscar tahun 2019 yang akan diselenggarakan tanggal 24 Februari lalu karena cuitannya yang tidak sopan di Twitter.

Jadi, ketika media sosial menjadi semakin dekat dalam kehidupan seorang, penting untuk berpikir dengan hati-hati tentang cara menangani diri di media social, Berikut ini adalah tips untuk bermedia social bijak.

Pikir Dulu Sebelum Posting, Merespon sesuatu dalam keadaan emosional dapat berisiko buruk dan menghasilkan hal yang kontra-produktif. Sama halnya dengan merespon postingan di media sosial. Lebih baik meluangkan waktu untuk berpikir dan merumuskan kembali argumen seperti apa yang akan diberikan. Menahan sejenak dan berpikir ulang tentang apa yang ingin diekspresikan dapat mengurangi risiko buruk dari komentar yang seharusnya tidak diujarkan.

Jangan Terlibat Dalam Argumen Tak Penting, Sangat mudah untuk melihat bagaimana sebuah postingan di platform seperti Facebook dan Twitter dapat menarik pengguna lainnya untuk saling berkomentar dengan kemarahan dan kebencian. Berkomentar di media sosial sangat mudah, sehingga seorang dengan cepat terjebak dalam argumen yang tak penting. Apa pun yang ia komentari dapat dilihat semua orang.

Contonya, berdebat di media sosial tentang siapa Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden yang akan menang di Pemilihan Umum 2024 nanti. Lebih baik kesampingkan keributan yang tak penting itu ! Berdebat di media sosial seringkali tidak ada gunanya. Tak perlu mengubah pikiran orang lain, mungkin bisa membahayakan diri sendiri.

Media sosial yang membuat hidup kita mudah bisa saja disalahgunakan untuk kepentingan yang merusak. Oleh karena itu, penting untuk selalu diingat bahwa semua aktivitas di media sosial akan bertahan permanen: rekam jejak digital yang tidak pernah hilang. Seseorang tidak pernah tahu siapa yang akan melihat komentarnya, baik sekarang atau di masa depan. Jadi, hiduplah di media sosial sebagaimana hidup seperti biasa dengan baik.

Bisa, kan?

(Deddi)

 

You can share this post!

0 Comments

Leave Comments