Palangka Raya - Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM RI, Mohammad Kashuri, S.Si., M.Apt., Farm., menegaskan bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tidak hanya berperan sebagai lembaga pengawas, tetapi juga menjadi mitra strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan industri obat tradisional, suplemen kesehatan, kosmetik, dan pangan berbasis potensi daerah.
Hal tersebut disampaikan Mohammad Kashuri saat memberikan sambutan pada kegiatan Apresiasi UMKM Obat Bahan Alam dan Kosmetika Kalimantan Tengah, Sosialisasi BRIDGE, serta Rapat Pembinaan UPT BPOM yang digelar di Aula Balai Besar POM Palangka Raya, Rabu (15/7/2026).
Dalam sambutannya, Mohammad Kashuri menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah yang diwakili Asisten Administrasi Umum Setda Provinsi Kalimantan Tengah, Sunarti, serta seluruh pemangku kepentingan yang hadir.
Menurutnya, kehadiran jajaran BPOM dari berbagai daerah di Palangka Raya bukan hanya untuk melaksanakan pembinaan dan pengawasan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap perputaran ekonomi daerah.
"BPOM tidak hanya hadir untuk melakukan pengawasan, tetapi juga ikut berkontribusi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui pembinaan pelaku usaha, pengembangan produk lokal, hingga membuka akses pemasaran," ujarnya.
Ia menjelaskan, BPOM memiliki tugas memastikan obat dan makanan yang beredar di masyarakat aman, bermutu, dan bermanfaat. Namun, BPOM juga mengawal proses sejak hulu hingga hilir dengan mendorong hasil riset perguruan tinggi agar tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, melainkan berkembang menjadi produk inovatif yang dapat dikomersialisasikan.
Untuk mendukung hal tersebut, BPOM menghadirkan program BRIDGE (Bridging Research and Industry for Development and Growth Ecosystem) sebagai jembatan kolaborasi antara akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah dalam proses hilirisasi hasil penelitian.
"Hasil riset harus menjadi produk unggulan daerah. Kalau belum ada pelaku usahanya, BPOM akan membantu mencarikan mitra industri agar hasil penelitian dapat diproduksi dan dipasarkan," kata Mohammad Kashuri.
Ia juga menegaskan bahwa BPOM terus menyederhanakan layanan perizinan tanpa mengurangi aspek keamanan dan mutu produk. Menurutnya, berbagai kendala yang selama ini dihadapi pelaku UMKM akan diatasi melalui pendampingan langsung dari BPOM.
Selain pendampingan perizinan, BPOM juga mendorong perluasan akses pasar melalui kerja sama dengan sektor perhotelan agar produk-produk UMKM lokal, seperti kosmetik, jamu, dan suplemen kesehatan, dapat dimanfaatkan sebagai amenitas hotel maupun produk unggulan bagi wisatawan.
Tak hanya itu, BPOM juga memiliki program Orang Tua Angkat UMKM, yakni mempertemukan industri besar dengan pelaku UMKM agar memperoleh pendampingan dalam aspek permodalan, teknologi, peningkatan kapasitas produksi, hingga pemasaran.
Menurut Mohammad Kashuri, seluruh langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen BPOM dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkuat daya saing produk lokal.
Di akhir sambutannya, ia juga mengajak seluruh mitra BPOM mendukung pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) di lingkungan Balai Besar POM Palangka Raya.
"Kami berkomitmen memberikan pelayanan yang profesional, transparan, dan berintegritas. Karena itu kami mengajak seluruh mitra, khususnya pelaku usaha, untuk bersama-sama menjaga pelayanan yang bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme," tegasnya.
Melalui kegiatan ini, BPOM berharap sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat semakin kuat dalam mengembangkan potensi kekayaan hayati Kalimantan Tengah menjadi produk obat bahan alam, suplemen kesehatan, dan kosmetik yang aman, bermutu, berdaya saing, serta mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah.
(Era Suhertini)
0 Comments