Kalteng

OJK Dorong Desa Tanjung Putri Jadi Percontohan Ekonomi Inklusif, Nelayan Siap Naik Kelas

Palangka Raya - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Tengah bersama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Kabupaten Kotawaringin Barat terus memperkuat upaya perluasan akses keuangan di wilayah pedesaan. Hal ini diwujudkan melalui Rapat Koordinasi Pembentukan Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) Tahun 2026 yang digelar di Pangkalan Bun, Senin (27/4/2026).

Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, lembaga jasa keuangan, hingga perangkat desa. Fokus utama rapat adalah mendorong Desa Tanjung Putri, Kecamatan Arut Selatan, menjadi model Desa Ekosistem Keuangan Inklusif yang terintegrasi dengan Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Desa Tanjung Putri dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Sekitar 70 persen penduduknya berprofesi sebagai nelayan, didukung sumber daya alam yang melimpah, seperti lahan perikanan, pertanian, hingga perkebunan. Kondisi ini menjadi dasar kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi desa berbasis sektor produktif.

Namun demikian, tantangan masih terlihat dari tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat, khususnya di kalangan nelayan dan wilayah pedesaan, yang masih berada di bawah rata-rata nasional. Oleh karena itu, program Desa EKI diharapkan mampu menjembatani kesenjangan tersebut melalui peningkatan akses layanan keuangan formal.

Kepala OJK Provinsi Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, menegaskan bahwa pembentukan Desa EKI merupakan langkah konkret dalam menghadirkan layanan keuangan yang inklusif dan produktif di wilayah pesisir.

“Sinergi antara pemerintah daerah, regulator, dan industri jasa keuangan menjadi kunci dalam memberdayakan nelayan serta mendorong pertumbuhan ekonomi desa yang berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat melalui Kepala Bagian Ekonomi dan Sumber Daya Alam, M. Firmansyah Permana, menyampaikan bahwa kolaborasi antara Desa EKI dan KNMP merupakan strategi penting dalam pembangunan desa berbasis potensi lokal.

Menurutnya, penguatan akses keuangan, pemberdayaan usaha produktif, serta peningkatan literasi keuangan akan menjadi faktor utama dalam menciptakan desa yang sejahtera dan berdaya saing.

Dalam rapat tersebut, peserta juga membahas berbagai langkah konkret, mulai dari penguatan ekosistem usaha, akses pembiayaan, hingga dukungan infrastruktur pendukung seperti dermaga, pabrik es, cold storage, bengkel nelayan, dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) berbasis koperasi.

Melalui kolaborasi yang solid, Desa Tanjung Putri diharapkan mampu menjadi contoh sukses pengembangan ekonomi desa yang inklusif dan berkelanjutan. Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kesejahteraan nelayan, tetapi juga mendorong transformasi desa pesisir menjadi lebih modern, produktif, dan berdaya saing tinggi.

(Era Suhertini)

You can share this post!

0 Comments

Leave Comments