Nasional

Pantai Parangtritis Jogjakarta Geliatkan Ekonomi Masyarakat

JOGJAKARTA - Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif- Parekraf, menjadi salah satu sektor penyumbang geliat ekonomi warga lokal setempat. Seperti yang terlihat di salah satu destinasi wisata yang ada di daerah istimewa jogjakarta, pantai parang tritis di kawasan bantul ini.

Di musim liburan sekolah seperti sekarang, pengunjung tampak ramai dari pagi hingga jelang malam. Parang Tritis masih menjadi primadona kunjungan wisata. Moment seperti ini membawa  dampak pada peningkatan ekonomi masyarakat,pelaku usaha. Beberapa pedagang mengaku dengan banyaknya wisatawan yang datang, maka banyak pula pendapatan yang mereka peroleh.

Parang Tritis, salah satu pantai di sisi selatan jogja ini ,layaknya sebuah wahana  bermain bagi siapa saja yang datang. Senja yang romantis hingga suasana magis, dan cerita rakyat legendaris tentang pantai selatan dan penguasanya,  menjadi rangkaian magnet yang tak pernah  habis untuk dinikmati.  Garis pantai yang panjang dan landai tanpa karang menjadi tempat favorit bagi banyak aktifitas.

Seperti  menyusuri tiap sisi pantai dengan naik andong, atau kuda, mengendarai atv, kemudian naik jeep bersama keluarga, handai tolan,  bermain layang layang, menikmati pasir pantai dengan bermacam permaianan,ditambah ombaknya yang menantang membawa biuhnya ketepi pantai. Atau sekedar duduk  santai sambil menikmati jagung bakar ditemani seruputan kopi panas. Sembari menyaksikan manisnya langit senja yang kemudian berubah gelap dan hembusan dinginnya angina malam. Jarak tempuh dari kota jogjakarta pun tidak terlalu jauh, semua moda transportasi dilayani oleh infrastruktur jalan yang bagus.jarak jogja ke pantai parangtritis ialah sekitar 27 km atau 40 menit berkendara, namun dengan kendaraan umum dapat memakan waktu sekitar 1,5 jam, ini tergantung jadwal keberangkatan dan kondisi lalu lintas nantinya.

Sensasi seperti inilah yang di cari wisatawan yang atang dari berbagai penjuru tempat, dan keberadaan wisatawan inilah membawa dampak manis bagi pedagang, pelaku usaha lokal. Seperti penuturan mbah rukijem, yang berjualan jagung bakar sedari dahulu tempat ini. Dengan usianya yang sudah lanjut wanita ini melayani para pembeli jagung bakar dagangannya. Dengan paduan bumbu sederhana dan alat seadanya mbak rukijem membakar jagung ditemani dengan keramahannya. Mbah mengaku musim liburan membawa berkah, dagangannya laris, wisatawan silih berganti membeli jagung bakar miliknya. Otomatis pendapatan mbah rukijem untuk dibawa pulang pun bertambah.

Demikian juga dengan penuturan rohnawi, pedagang wedang ronde, minuman tradisional khas jawa, yang sudah membuka lapaknya sejak tahun 2000 silam. Dirinya mengaku senang dengan banyak  nya kunjungan wisatawan. Walaupun waktu menuju malam, ada saja pembeli yang datang ke lapaknya. Dirinya berjualan sedari siang hari hingga dini hari, dan pendapatnya pun meningkat tentu saja ekonomi keluarganya pun bergeliat.

Pariwisata menjadi salah satu tulang punggung pemulihan ekonomi nasional pasca-pandemi covid-19. Kini tinggal, bagaimana,  pemerintah mendorong para pelaku pariwisata, maupun ekonomi kreatif dalam menggenjot peluang, dan menciptakan kunjungan wisata walau tidak di musim liburan seperti sekarang ini. Promosi program destinasi ekowisata dan kearifan lokal dari desa wisata terus digencarkan. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf),  sandiaga salahuddin uno memastikan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan menjadi dasar utama dalam pengembangan ekonomi indonesia ke depan khususnya,  dalam kontribusinya mendorong capaian Visi Indonesia Emas 2045.

(Olivia Teja)

 

You can share this post!

0 Comments

Leave Comments