Kalteng

BPBD Kalteng Waspadai El Nino, 16 Karhutla Terjadi di Awal Tahun dan Sistem Peringatan Dini Dimaksimalkan

Palangka Raya - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah meningkatkan kewaspadaan menjelang fenomena El Nino, meskipun wilayah Kalimantan Tengah saat ini masih berada dalam musim penghujan.

Kepala BPBD Provinsi Kalimantan Tengah Ahmad Toyib melalui Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Kalimantan Tengah Indra Wiratama mengatakan, berdasarkan informasi dari BMKG, musim hujan diperkirakan masih berlangsung hingga pekan depan. Sementara musim kemarau diprediksi terjadi pada Juni hingga Juli 2026.

Namun di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu, BPBD mencatat sejumlah kejadian bencana. Terhitung sejak 1 hingga 18 Januari 2026, terjadi sebanyak 16 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah, di antaranya Kabupaten Gunung Mas, Katingan, Sukamara, dan Kota Palangka Raya, dengan luasan terbakar diperkirakan mencapai sekitar 20 hingga 70 hektare.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD Provinsi Kalimantan Tengah terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan BPBD kabupaten dan kota. Apabila daerah tidak mampu menangani kejadian bencana, BPBD provinsi mendorong penetapan status siaga guna mempermudah akses sumber daya, baik dari sisi keuangan maupun peralatan.

Indra menegaskan, masyarakat diimbau agar tidak lengah dan tidak terkecoh dengan kondisi cuaca saat ini. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, cuaca ekstrem dapat terjadi secara tiba-tiba. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk selalu mengikuti peringatan dini dari BMKG dan meningkatkan kesiapsiagaan.

Dalam mendukung upaya pencegahan, BPBD Provinsi Kalimantan Tengah telah memaksimalkan penggunaan sistem peringatan dini, salah satunya di Kabupaten Barito Selatan yang sudah mampu memantau kondisi secara real time. Sistem ini dinilai lebih efektif dibandingkan aplikasi lain yang umumnya memiliki jeda waktu hingga 12 jam.

“Ketika terdeteksi hotspot, kami bisa langsung memastikan kondisi di lapangan. Bahkan saat api masih kecil, penanganan bisa segera dilakukan agar tidak meluas,” jelas Indra.

Selain mendeteksi titik api, alat peringatan dini tersebut juga mampu membaca tinggi muka air dan tingkat kekeringan lahan. Mengacu pada ketentuan Kementerian Lingkungan Hidup, kondisi kekeringan berbahaya umumnya berada di bawah 40 sentimeter dari permukaan tanah, meskipun karakteristik setiap daerah berbeda.

Sistem ini juga dilengkapi sensor pemantauan tinggi muka air sungai untuk mendeteksi potensi banjir. Di Kabupaten Barito Selatan, ketinggian muka air sempat terpantau pada angka sekitar 14 sentimeter di sejumlah titik, yang sudah masuk kategori waspada dan menjadi dasar peningkatan kesiapsiagaan.

Untuk memperkuat sistem peringatan dini, BPBD Provinsi Kalimantan Tengah melalui anggaran tahun 2025 telah memasang alat peringatan dini di tiga daerah, yakni Kabupaten Barito Timur, Barito Selatan, dan Kabupaten Katingan. 

Ke depan, BPBD berharap sistem ini dapat diperluas ke kabupaten lain guna meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi El Nino serta potensi bencana lainnya.

(Era Suhertini)

You can share this post!

0 Comments

Leave Comments